Jakarta — Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Ibnu Chaldun (BEM UIC), Ikhsan Buyung Kalean, menyerukan kepada mahasiswa dan masyarakat untuk memperingati sejumlah peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di masa lampau yang dikenal dengan istilah September Hitam.
Menurut Ikhsan, peringatan September Hitam merupakan momentum penting untuk mengingat dan merefleksikan kembali berbagai peristiwa kelam dalam sejarah bangsa. Ia menilai, generasi saat ini perlu memahami catatan sejarah tersebut agar menjadi pembelajaran bersama dan mendorong terwujudnya penghormatan terhadap HAM.
“Peringatan September Hitam merupakan bentuk refleksi kita terhadap berbagai peristiwa pelanggaran HAM yang pernah terjadi di masa lalu. Sejarah harus tetap diingat agar menjadi pembelajaran bagi generasi sekarang dan yang akan datang,” ujar Ikhsan Buyung Kalean.
Meski demikian, Ikhsan mengingatkan agar penyampaian aspirasi dalam momentum September Hitam tetap dilakukan secara damai, tertib, dan bertanggung jawab. Ia menyerukan kepada seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga kondusivitas sehingga peringatan tersebut tidak menimbulkan keresahan maupun konflik di tengah masyarakat.
“Penting bagi kita untuk menyampaikan sikap dan mengingat sejarah, tetapi kita juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kondusivitas masyarakat. Aspirasi harus disampaikan secara damai, tertib, dan tidak mengarah pada tindakan yang dapat mengganggu keamanan maupun ketertiban umum,” tegasnya.
Ikhsan menambahkan, mahasiswa sebagai kelompok intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengawal isu-isu HAM melalui gerakan yang kritis, konstruktif, dan tetap mengedepankan nilai-nilai demokrasi.
Ia berharap momentum September Hitam dapat menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penegakan HAM, keadilan, dan demokrasi, tanpa mengesampingkan persatuan serta keamanan bersama.
“Jangan sampai semangat mengingat sejarah justru membuat kita kehilangan semangat menjaga persatuan. Mari kita jadikan September Hitam sebagai momentum refleksi, menyuarakan keadilan, dan memastikan bahwa pelanggaran HAM tidak boleh terulang kembali,” pungkas Ikhsan. /*ADR












